RUMAHKU ISTANAKU

Namaku Adi, seorang karyawan di sebuah perusahaan. Istriku bernama Siska, saat ini sedang mengandung anak keduaku. Putra pertamaku, Angga, sudah berusia 5 tahun. Saat ini aku masih mengontrak rumah dan berencana untuk memiliki sebuah rumah sendiri. Tabunganku rasanya sudah cukup untuk membeli sebuah rumah sederhana yang siap huni. Apalagi dengan segera hadirnya anak kedua, maka keluargaku membutuhkan sebuah rumah dengan ruangan yang cukup, dan tentunya memiliki pengaturan udara dalam ruang yang mumpuni.

              Hari ini kami mengunjungi sebuah rumah yang hendak dijual. Dari informasi lokasi dan desain, rasanya rumah ini cocok untuk kami. Sesampainya disana kami disambut oleh pemilik rumah yang kemudian mengajak kami melihat sekeliling rumah. Terasa sejuk saat kami memasuki pintu ruang tamu, yang menyatu dengan ruang duduk keluarga dan ruang makan, sekaligus dapur bersih. Istriku tampaknya senang dengan area bawah itu. Ia melihat sebuah AC split wall yang terpasang di dinding seberang sebuah TV di ruang duduk. Aku mulai paham bahwa penataan AC ternyata perlu direncanakan, sehingga aliran udara tidak langsung terkena kepada kepala orang yang duduk di depan TV.

              “Dengan ruangan yang tidak terlalu luas ini, kita cukup memasang AC dengan kekuatan 1,5PK saja, pak”, berkata sang pemilik rumah, yang mungkin juga dapat membaca pikiranku.

              “Oh, begitu ya pak”, kataku sambil mengangguk. “pas ya dinginnya, terasa sejuk”.

              “Iya, ayah, dingin ya, segar”, Angga anakku juga terlihat senang disini.

              Kemudian kami memasuki ruang tidur utama yang rupanya juga sudah terpasang AC split di dinding yang bahkan terasa lebih dingin di kamar itu. “Nah, penting juga untuk AC dipasang di kamar tidur, pak”, kata pemilih rumah. “Cocoknya sih pake AC Daikin, pak, biar enak tidur”, lanjutnya sambil tersenyum. Kami ikut tersenyum. Aku cukup kenal dengan AC merek Daikin, dan dalam hati aku bergumam, rupanya AC Daikin tidak hanya dibuat untuk nyaman beraktivitas dalam ruangan, tapi untuk enak tidur juga. Memang AC nya tidak berbunyi dan dinginnya tidak menusuk tulang.

              “Mari kita lihat ke lantai atas pak, bu. Disana ada kamar untuk anak yang sudah dipasang AC juga”, ajak sang pemilik rumah.

              Kami naik ke lantai atas dan terasa juga di kamar anak yang tidak besar itu juga sudah dingin. Udara segar terasa di sekeliling kamar.

              “Nah, untuk kamar anak ini, kami pasang 1/2 PK saja sudah sangat cukup. Kalo yang kamar tidur utama tadi kami pasang 1 PK”, pemilik rumah lanjut menjelaskan.

              “Wah asik ya, semua sudah siap pengaturan tata udara dalam ruangnya”, kata istriku.

              “Berati total ada berapa AC di rumah ini, pak? Tanyaku. “Lalu, berapa biaya listriknya sebulan?”

              Kemudian pemilik rumah menjelaskan bahwa ia menggunakan produk Daikin Multi-S. Itu adalah tipe AC dengan 1 Unit outdoor namun bisa dikombinasikan sampai 3 buah unit indoor dengan kapasitas yang berbeda. “Totalnya 3 PK pak, dan dengan tipe inverter yang hemat energi, maka kita bisa menghemat daya listrik, karena setelah dinyalakan maka daya listriknya akan berangsur-angsur turun sampai ke 30%-nya saja”.

              Aku menjadi semakin tertarik dengan pengelolaan AC dan listrik dari pemilik rumah. “Lalu outdoornya ada dimana?” tanyaku kembali.

              “Nah, seperti yang tadi saya bilang, bahwa 3 AC yang ada di ruang duduk, kamar utama dan kamar anak ini, semua terhubung ke 1 buah unit outdoor saja. Unit itu saya letakan di dak atas lantai 1. Jadi selain praktis, dengan menggunakan produk Multi-S kita bisa menghemat space untuk unit outdoor AC karena hanya ada 1 Unit aja. Pemeliharaan service rutin 3-4 bulanannya juga menjadi lebih mudah dan efektif.

              Istriku tersenyum senang dan tampaknya sudah sangat menginginkan rumah ini. Aku juga sangat terkesan dengan rencana tata udara sang pemilik rumah. Dengan sopan aku hanya bisa memuji pemilik rumah yang mempertimbangkan seluruh aspek rumah tinggal dengan detil. Lalu dia bekata bahwa untuk rencana desain tata udara serta pemasangannya, ia serahkan kepada ahlinya, yaitu PT Sarana Tunggal Mulia, Bandung.

              Aku dan istri pun mengangguk-angguk berterima kasih karena mendapatkan pencerahan pengelolaan tata udara dalam ruang. Anakku masih berlarian senang kesana kemari di dalam rumah yang sejuk itu. Lalu Istriku memberikan kode kepadaku dengan kerlingan matanya, yang kemudian aku lanjutkan kepada pemilik rumah sambil sedikit tersenyum malu, “ehem, yah, pak, agar bisa deal, jadi, bisa di diskon berapa pak, rumahnya?”

 (WS).